John Tobing: Desa Harus Merdeka

552
John Tobing. Ilustrasi: Rhetor/Fahri.

John Tobing, sebenarnya sudah siap sejak sore untuk tampil, namun penampilannya harus di-pending lantaran acara terhenti akibat guyuran hujan. Hujan baru reda sekitar pukul tujuh malam. Para penonton yang awalnya berhamburan mencari tempat berteduh, mulai kembali merapat. Panitia pun langsung menyuguhkan angkringan gratis untuk mereka sebagai snack malam.

lpmrhetor.com, Yogyakarta – Malam itu, Selasa 16/08. Puluhan orang berkumpul memadati kawasan Tugu Yogyakarta. Mereka adalah para aktivis pro-demokrasi dari berbagai elemen, para jurnalis dari berbagai media dan pers mahasiswa. Malam itu, mereka hadir untuk bersama-sama mengikuti acara “Panggung dan Orasi Budaya” dalam peringatan 20 tahun kematian Udin, Wartawan yang dibunuh karena berita. Acara ini diselenggarakan oleh Aliansi Jurnalis Independen (AJI) cabang Yogyakarta.

Dimulai sejak pukul lima sore, acara ini merupakan puncak dari serangkaian acara “Peringatan 20 tahun Udin, Rawat Kebebasan, Tolak Kekerasan” dari tanggal 14 Agustus 2016 kemarin. Meskipun malam itu, acara sempat terhenti akibat guyuran hujan. Pelaksanaan diteruskan dan ditandai dengan terdengarnya suara pemandu acara yang kembali menuntun acara.

“Tuntaskan Kasus Udin!!” teriak salah satu master of ceremony (MC) itu.

Yang lantas dijawab secara serentak  dan lantang berupa kata “Tuntaskan!!!” oleh semua penonton. Itulah jargon mereka pada acara malam itu.

Tanpa banyak basa-basi lagi, Akhirnya MC langsung mempersilahkan John Tobing sebagai penampil pertama. Semua penonton langsung menyambutnya dengan riuh-rendah. Bagaimana tidak, pencipta lagu Darah Juang ini banyak menginspirasi mereka lewat banyak lagu-lagunya.

“Selamat malam.” sapa John Tobing.

Lagi-lagi disambut oleh jawaban serentak oleh penonton, “Malam.”

John Tobing menyampaikan, bahwa awalnya dia diundang untuk acara kasus agraria oleh kawan-kawan dari Batu Kodok. “Ternyata undangannya ke AJI, hehe…” kata John disambut gelak tawa penonton.

Sekitar empat lagu dinyanyikan oleh John, ketika ingin beranjak ke lagu ketiga, beliau menyampaikan bahwa, awalnya dia sangat berharap kepada Jokowi untuk bisa mengubah Indonesia. Namun yang ada sekarang malah ketidakjelasan. “Kalau terus-tersusan enggak jelas mending turunkan saja..” katanya ringan.

Lewat salah satu lagunya yang dibawakan malam itu, John menyampaikan bahwa kemerdekaan itu milik desa, dan desa sudah seharusnya merdeka. “Tapi kita harus tetap percaya kepada pemerintah yaa..” pungkasnya. Kemudian John mengakhiri penampilannya dengan lagu Darah Juang, Lagu yang kemudian dilagukan semua penonton dengan menyanyikannya bersama.[]

Reporter: Ikhlas Alfarisi

Editor: Fahri Hilmi

You may also like

Hura-Hura Hari Pers, dan Tirto Tenggelam

Mengenang dan merefleksikan; Memukuli penguasa. Bebas dan berani.